"Hei nyonya-nyonya disana! Bisakah duduk dan sedikitkan bicaramu, bak bidadari bidadari surga yang sedang menunggu pangerannya?" Kataku dalam hati.
Sisi lainku bilang, "katakan saja kepada mereka!"
"Aku tak mampu, aku terbiasa untuk tidak mencari masalah. Huh! Apalagi dengan nyona nyonya itu." Aku tak paham, dihatiku seperti ada perdebatan.
"Apakan tuan-tuan tak heran melihat nyonya seperti itu?" Kataku kepada sekumpulan pria.
Tuan-tuan itu bilang, "Kami heran, tapi kami maklum. Kami paham kodrat itu."
"Aku salut dengan tuan tuan. Rasa memaklumkan mereka cukup tinggi. Huh! Tak sepertiku." Aku hanya menggerutu dalam hati.
Pernah sesekali aku sengaja berjalan kearah nyonya nyonya itu. Dan GUBRAKKK!! sudah kuduga! Ada orang yang mereka jadikan topik. Astaghfirullah, udah berapa banyak ya? Ah tidak tidak! Tak boleh ada pertanyaan tentang itu dan tidak boleh ada pernyataan!
"Aku tak mau menjadi sesosok yang sok suci dengan menghakimi satu pihak." Hatiku tak henti berbicara tidak, tidak dan tidak.
Tak lama, terlintas dibenakku. "Apa iya aku pernah menjadi topik mereka?"
"Ah! Sudah kukatakan. Jangan ada pertanyaan dan pernyataan!" Lagi lagi ada yang menyaut.
Apa aku harus seperti tuan tuan ituya? Mereka paham atas kodrat itu. Pikirku.
Waduh! Aku salah! Seharusnya aku tidak mencoba mendengarkan!
Eh tidak! Aku disini ingin mencari tau benar atau tidak apakah aku pernah menjadi topik mereka.
Ada sebab, ada akibat.
Kemarin, dua orang nyonya berselisih denganku. Mereka berbicara berdua tetapi ke arahku.
"Eh, baik rupanya dia. Semalam aku dibantu dia" kata salah seorang nyonya sambil tersenyum padaku.
Waduhh!! Ada satu kata yang otakku langsung menyerapnya begitu cepat. Terngiang dikepalaku "Rupanya".
"Apa yang sebelumnya telah kalian nilai dari aku nyonya-nyonya? Apa iya aku seburuk yang nyonya pikirkan? Apa iya aku orang yang jahat tak pernah beri kebaikan di kehidupan nyonya sementara kita sudah lama mengenal? Apa iya? Apa iya?" Otakku terus berfikir.
Ah! Ini yang tak kuinginkan! Otakku terlalu keras bepikir.
Aku jadi terus berpikir siapa aku, kenapa aku, mengapa aku ini, apa iya aku seperti yang nyonya-nyonya itu pikirkan?
Ku coba untuk tenangkan diriku dan ku coba untuk mencari nilai baik dari ini semua.
Mungkin ini cara Allah agar aku mengintropeksi diri, mencari kesalahan dalam diriku yang selama ini takkusadari. Aku harus belajar seperti tuan-tuan itu, mencoba memberi banyak maklum kepada orang-orang sekitarku tak hanya dengan nyonya-nyonya itu.
Pikir positif sajalah, pikirku. Aku harus berterimakasih kepada nyonya-nyonya itu, sebab mereka yang membuatku jauh lebih baik dari sebelumnya😊.